Awalnya, aksi penolakan berlangsung damai. Melihat rombongan datang massa menghadang dengan membuat pagar betis di jalan menuju lokasi proyek. Sambil mengusung sejumlah pamflet massa juga beteriak sebagai bentuk penolakan proyek panas bumi di daerah mereka. Belum sempat berdialog panjang, tiba-tiba terjadi lemparan batu dan kayu ke arah petugas yang melakukan pengamanan.
Akibatnya, sebanyak tiga orang anggota polisi dari Polres Arosuka yang tengah melakukan pengawalan terhadap rombongan tim survey, mengalami luka-luka. Mereka kemudian dilarikan ke RSUD Arosuka. Kondisi massa yang makin brutal, petugas lebih memilih menahan diri dan mundur. Petugas kemudian menenangkan massa agar tidak anarkis. Sehingga, massa mulai terkendali. Petugas yang mengalami cedera akibat lemparan massa di antaranya,
Bripda Iksanul fajri, anggota Satlantas Polres Solok mengalami luka robek pada bagian kepala dan harus mendapatkan beberapa jahitan. Kemudian Briptu Aswandi Priatama dari Satuan Reskrim, mengalami bengkak pada bagian leher akibat hantaman massa. Satu personel lainnya, Brigadir Yudi Eka Mulia dari Sat Sabhara mengalami bengkak pada lengan kanan akibat lemparan batu. Kapolres Solok Arosuka, AKBP Ferry Irawan langsung mengantarkan anggotanya yang mengalami luka-luka mendapatkan perawaran medis di RSUD Arosuka.
Sementara itu, Bupati Solok Gusmal Dt Rajo Lelo, menyusul ke rumah sakit membezuk petugas yang terbaring di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Arosuka. Menyikapi peristiwa itu, Kapolres dan Bupati Solok mengatakan saat ini, petugas yang cedera harus dirawat dulu. Tentang siapa saja yang melakukan perbuatan anarkis, Kapolres dan Bupati mengaku tidak mau menduga-duga.
Dari kasus ini pemda terutama Gusmal harus mengambil sikap yang menguntungkan masyarakat. Jangan ada lagi pengalihan isu dengan melibatkankan media dan membangun opini bahwa Kabupaten Solok tidak ramah investasi seperti beberapa saat lalu.